Kenapa sistemnya beda bisa bikin kesenjangan makin lebar (atau makin sempit)
Beda dasarnya di mana sih?
Pajak proporsional (flat tax): tarifnya sama rata buat semua orang, gak peduli penghasilan kamu berapa. Contoh: PPN 11% berlaku sama aja buat yang beli indomie atau yang beli iPhone.
Pajak progresif: tarifnya naik seiring penghasilan naik. Makin kaya, makin gede persentase yang dibayar. Ini yang dipakai di PPh 21 kita (5% sampai 35%).
Kelihatannya cuma beda teknis, tapi dampaknya ke kesenjangan sosial itu jauh banget bedanya.
Kenapa pajak proporsional bisa “nyakitin” yang miskin?
Ini yang sering luput: tarif sama rata itu kelihatannya adil, tapi secara efek nyata regresif.
Contoh: PPN 11% buat beli beras. Buat orang gaji Rp3 juta, itu potong porsi penghasilan yang jauh lebih berat dibanding orang gaji Rp30 juta yang beli barang sama. Padahal persentasenya identik.
Istilah ekonominya “regressivity of consumption tax”. Semakin besar porsi penghasilan yang dipakai buat konsumsi dasar (kayak orang miskin), semakin berat beban pajak konsumsi ini dirasain secara relatif.
Progresif dirancang buat “meratakan” tapi ada trade-off
Konsepnya: yang berpenghasilan tinggi bayar porsi lebih besar, hasilnya bisa dipakai buat subsidi, bansos, atau layanan publik yang bantu kelompok bawah. Ini yang bikin negara Skandinavia (Swedia, Denmark) punya kesenjangan lebih kecil meski tarif pajaknya tinggi banget.
Tapi progresif juga punya kritik:
- Rawan “bracket creep” (kena tarif lebih tinggi cuma karena inflasi, bukan karena beneran lebih kaya)
- Orang kaya sering punya cara legal buat kurangi penghasilan kena pajak (lewat investasi, offshore, dll)
- Kalau tarif top bracket kelewat tinggi, bisa bikin orang kaya/perusahaan pindah ke negara lain (tax competition)
Jadi progresif bukan solusi otomatis. Implementasinya yang nentuin efektif atau nggak.
Realitanya: kebanyakan negara pake keduanya
Indonesia sendiri kombinasi dua-duanya. PPh pakai skema progresif, tapi PPN (yang notabene lebih sering kita bayar sehari-hari) itu proporsional/flat.
Ini kenapa banyak ekonom bilang: kalau mau ngurangin kesenjangan lewat pajak, gak cukup cuma benerin tarif PPh doang, kebijakan PPN, subsidi, dan belanja publik juga harus jalan bareng. Sistem pajak itu satu paket, bukan satu instrumen tunggal.
Jadi next time denger debat “pajak orang kaya harus dinaikin”, inget bahwa progresivitas itu cuma satu bagian dari cerita kesenjangan yang lebih besar
Kenapa PPN yang kamu bayar tiap hari sama rata, tapi PPh bisa beda-beda tergantung gaji? Ternyata dua sistem pajak ini punya dampak yang jauh beda ke kesenjangan sosial. Swipe buat paham logikanya 👉
Cari tau seputar pajak bersama @vms.pt 😉
Konsultasikan langsung mengenai perpajakan hubungi kami 📞0882002553674 atau dengan DM kami